Berpikir Positif: Melihat Ketetapan Allah, Diri, Anak, dan Proses Pengasuhan dengan Harapan, Syukur, dan Optimisme

0
Berpikir positif sebagai orang tua

Berpikir positif sebagai orang tua

KBP 3.0

Menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan panjang. Tidak selalu mudah, tidak selalu sesuai harapan, dan tidak selalu memberikan hasil yang dapat kita lihat hari ini.

Ada saatnya anak sulit diarahkan. Ada saatnya orang tua merasa lelah, bingung, kecewa, bahkan bertanya dalam hati, “Apakah saya sudah menjadi orang tua yang baik?”

Di sinilah kita membutuhkan berpikir positif.

Namun, berpikir positif dalam KBP 3.0 bukan berarti memaksa diri untuk selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan pula menutup mata terhadap masalah, mengabaikan kesulitan, atau berpura-pura tidak kecewa.

Berpikir positif adalah kemampuan untuk tetap menemukan makna, harapan, dan kemungkinan kebaikan di tengah kenyataan yang sedang kita hadapi.

Sebagai orang tua, kita belajar melihat ketetapan Allah dengan keyakinan dan rasa syukur. Kita mungkin tidak selalu memahami mengapa sebuah tantangan hadir dalam keluarga kita. Namun kita percaya bahwa kehidupan ini berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah. Karena itu, setiap keadaan dapat menjadi ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh.

Kita juga belajar berpikir positif terhadap diri sendiri.

Jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya tidak mampu menjadi orang tua yang baik.”

Allah telah memberikan kepada kita berbagai kemampuan: akal untuk belajar, hati untuk mencintai, pengalaman untuk menjadi bekal, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Kita tidak harus menjadi orang tua yang sempurna. Kita perlu menjadi orang tua yang terus bertumbuh.

Kita pun belajar melihat anak dengan cara yang positif.

Anak bukan sekadar perilaku yang harus diperbaiki. Anak adalah manusia yang memiliki fitrah, potensi, dan perjalanan pertumbuhannya sendiri. Tugas orang tua bukan menciptakan anak sesuai seluruh keinginan kita, tetapi membantu anak mengenali, menjaga, dan mengembangkan fitrah serta potensinya.

Karena itu, ketika hari ini kita melihat kekurangan pada anak, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa masa depannya akan buruk.

Apa yang belum terlihat hari ini bukan berarti tidak akan tumbuh di kemudian hari.

Demikian pula dalam memandang proses pengasuhan.

Apa yang kita ajarkan hari ini mungkin belum langsung terlihat hasilnya. Doa yang kita panjatkan, teladan yang kita berikan, percakapan kecil yang kita bangun, kesabaran ketika menghadapi perilaku anak, bahkan pelukan sederhana yang kita berikan—semuanya dapat menjadi bagian dari proses panjang pembentukan dirinya.

Orang tua perlu belajar melihat jauh ke depan.

Hari ini mungkin kita sedang menanam. Suatu hari nanti, insyaAllah, kita akan melihat apa yang tumbuh.

Maka KBP 3.0 mengajak kita membangun empat sikap positif:

Positif terhadap ketetapan Allah.
Menerima kehidupan dengan iman, mencari hikmah, dan tetap berharap kepada Allah.

Positif terhadap diri sendiri.
Menyadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk belajar, berubah, dan menjadi orang tua yang lebih baik.

Positif terhadap anak.
Melihat anak sebagai pribadi yang memiliki fitrah dan potensi, bukan sekadar kumpulan masalah dan kekurangan.

Positif terhadap proses pengasuhan.
Percaya bahwa setiap kebaikan yang ditanamkan dengan konsisten memiliki kemungkinan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang besar di kemudian hari.

Inilah berpikir positif yang ingin kita bangun di Komunitas ARBA: bukan optimisme kosong, tetapi optimisme yang berakar pada iman, syukur, ikhtiar, kesabaran, dan harapan kepada Allah.

Sebab menjadi orang tua yang sehat mental bukan berarti tidak pernah lelah, kecewa, takut, atau sedih.

Menjadi orang tua yang sehat mental berarti mampu kembali melihat kehidupan dengan jernih setelah menghadapi kesulitan; mampu menemukan harapan ketika keadaan terasa berat; mampu bersyukur atas apa yang masih dimiliki; dan mampu terus melangkah untuk membantu anak bertumbuh.

Mari kita belajar bersama.

Mari kita belajar menerima tanpa menyerah, bersyukur tanpa berhenti berikhtiar, menghadapi tantangan tanpa kehilangan harapan, dan mendidik anak dengan keyakinan bahwa setiap anak memiliki fitrah yang layak untuk dibesarkan.

Karena pada akhirnya, parenting bukan hanya tentang bagaimana kita membesarkan anak. Parenting juga tentang bagaimana Allah menggunakan perjalanan membesarkan anak untuk membuat kita sendiri menjadi manusia yang lebih baik.

Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk pertolongan Allah kepada kita sebagai orang tua.

Tetap positif.
Tetap bersyukur.
Tetap optimis.
Tetap berikhtiar.
Dan jangan pernah berhenti mendoakan anak.

KBP 3.0 — Berpikir Positif.

Melihat ketetapan Allah, diri, anak, dan proses pengasuhan dengan harapan, syukur, dan optimisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *