Berpikir lebih strategis terkait Parenting

0
Transformasi Parenting

Transformasi Parenting

Bismillahirrahmanirrahim.

Hampir setiap orang tua mencintai anak-anaknya. Mereka bekerja keras demi pendidikan terbaik, menyediakan makanan bergizi, memilih sekolah yang dianggap berkualitas, bahkan rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun di tengah semua ikhtiar itu, kita masih menyaksikan berbagai kenyataan yang menggelisahkan.

Ada anak yang berprestasi tetapi kehilangan makna hidup.

Ada anak yang cerdas secara akademik tetapi rapuh ketika menghadapi kegagalan.

Ada anak yang tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan tetapi merasa kesepian.

Ada pula orang tua yang merasa telah memberikan segalanya, namun hubungan dengan anak justru semakin renggang.

Fenomena ini mengajak kita bertanya kembali:

Apakah persoalan utama pengasuhan hanya terletak pada kurangnya teknik mendidik anak?

Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar yang belum kita sentuh?


Parenting Modern Banyak Berbicara tentang Perilaku

Sebagian besar pendekatan parenting modern berfokus pada perubahan perilaku.

Bagaimana membuat anak disiplin.

Bagaimana meningkatkan motivasi belajar.

Bagaimana mengurangi kecanduan gawai.

Bagaimana mengelola emosi.

Bagaimana meningkatkan prestasi.

Semua itu penting.

Namun Islam mengajarkan bahwa perilaku hanyalah buah.

Buah tidak akan sehat apabila akar yang menopangnya lemah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa perubahan perilaku tidak dapat dilepaskan dari perubahan hati dan kesadaran.


Islam Memulai Pendidikan dari Hati

Ketika Al-Qur’an menceritakan dialog Luqman dengan putranya, pelajaran pertama yang diberikan bukanlah tentang prestasi, melainkan tentang tauhid.

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah…”
(QS. Luqman: 13)

Mengapa?

Karena seluruh perilaku manusia pada akhirnya bersumber dari cara manusia memandang Allah, memandang dirinya, memandang kehidupan, dan memandang tujuan penciptaannya.

Islam membangun manusia dari dalam ke luar (inside-out), bukan sekadar dari luar ke dalam (outside-in).


Anak Bukan Kertas Kosong

Dalam banyak teori perkembangan, anak sering digambarkan sebagai individu yang perlu “dibentuk” melalui pengalaman.

Islam memberikan perspektif yang lebih utuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, anak tidak lahir sebagai ruang kosong.

Allah telah menitipkan fitrah, potensi, kecenderungan kepada kebenaran, kemampuan mengenal Rabb-nya, serta benih-benih kebaikan sejak awal penciptaannya.

Karena itu, tugas orang tua bukan menciptakan fitrah.

Tugas orang tua adalah menjaga, menghidupkan, dan mengembangkannya.


Mengapa Banyak Orang Tua Tetap Kesulitan?

Bukan karena mereka tidak mencintai anak.

Tetapi sering kali karena pengasuhan hanya berfokus pada hasil yang tampak.

Kita terlalu sibuk bertanya:

“Nilainya berapa?”

“Rangking berapa?”

“Masuk sekolah mana?”

Namun jarang bertanya:

“Apakah ia semakin mengenal Allah?”

“Apakah ia semakin memahami tujuan hidupnya?”

“Apakah ia semakin mampu membedakan yang benar dan yang salah?”

“Apakah ia semakin mengenali fitrah yang Allah titipkan?”

Padahal pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan arah kehidupannya di masa depan.


Parenting Perlu Direposisi

Reposisi yang kami tawarkan bukanlah mengganti seluruh teori parenting yang telah berkembang.

Sebaliknya, kami mengajak melihat bahwa berbagai teknik pengasuhan akan jauh lebih bermakna apabila dibangun di atas fondasi keberfungsian spiritual.

Dalam perspektif ARBA, pengasuhan bukan sekadar proses membentuk perilaku anak.

Pengasuhan adalah proses mengaktivasi keberfungsian spiritual, yaitu kapasitas orang tua dan anak untuk terus mengembangkan kesadaran yang membimbing cara berpikir, mengambil keputusan, berperilaku, dan menjalankan peran kehidupan sesuai petunjuk Allah.

Dengan demikian, perilaku baik tidak lagi hanya bergantung pada kontrol dari luar, tetapi tumbuh dari kesadaran yang hidup di dalam diri.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *