Kewirausahaan Sosial untuk Pekerjaan Sosial
Kewirausahaan Sosial dalam Pekerjaan Sosial
Dr. Hery Wibowo
Ada sebuah pertanyaan penting yang semakin relevan bagi dunia pekerjaan sosial:
Bagaimana pekerjaan sosial tidak hanya membantu manusia menghadapi masalah, tetapi juga membantu manusia menciptakan peluang, mengembangkan potensi, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri dan berkelanjutan?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu pintu masuk pengembangan kepakaran Dr. Hery Wibowo, S.Psi., MM., dalam bidang Kewirausahaan Sosial dalam Pekerjaan Sosial.
Kepakaran ini bukanlah upaya membawa konsep bisnis semata-mata ke dalam pekerjaan sosial. Sebaliknya, kewirausahaan sosial ditempatkan sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat misi pekerjaan sosial: mengembangkan kapasitas manusia, memperkuat komunitas, menciptakan nilai sosial, dan mendorong perubahan yang berkelanjutan.
Dari Problem Solving Menuju Opportunity Creation
Selama ini pekerjaan sosial sangat kuat dalam membantu individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial.
Namun, dunia sosial terus berubah.
Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, perubahan dunia kerja, persoalan pendidikan, perubahan pola pengasuhan, hingga berbagai persoalan masyarakat digital membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mampu merespons masalah, tetapi juga mampu menciptakan peluang perubahan.
Di sinilah kewirausahaan sosial memperoleh relevansinya.
Seorang pekerja sosial tidak cukup hanya bertanya:
“Apa masalah yang sedang dihadapi masyarakat?”
Tetapi juga perlu bertanya:
“Potensi apa yang sebenarnya dimiliki masyarakat, peluang apa yang dapat dikembangkan, dan nilai sosial apa yang dapat diciptakan bersama?”
Perubahan cara bertanya tersebut membawa pekerjaan sosial dari semata-mata problem solving menuju opportunity creation.
Kewirausahaan Sosial Bukan Sekadar Mendirikan Usaha
Kewirausahaan sosial sering kali dipahami secara sederhana sebagai kegiatan bisnis yang memiliki tujuan sosial.
Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sempit.
Dalam perspektif pekerjaan sosial, kewirausahaan sosial dapat dilihat sebagai proses pengembangan kapasitas manusia dan komunitas untuk mengenali persoalan sekaligus menemukan peluang menciptakan solusi yang memberikan manfaat sosial dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Karena itu, perhatian tidak hanya diberikan kepada social enterprise sebagai bentuk kelembagaan.
Perhatian juga diarahkan kepada manusia yang berada di baliknya.
Bagaimana seseorang membangun keberanian untuk mengambil inisiatif?
Bagaimana komunitas mengenali aset yang mereka miliki?
Bagaimana kelompok masyarakat mengubah masalah menjadi peluang inovasi?
Bagaimana solusi sosial dapat terus berjalan ketika program atau pendanaan awal telah selesai?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ruang penting bagi pengembangan Kewirausahaan Sosial dalam Pekerjaan Sosial.
Manusia Tetap Menjadi Pusat
Salah satu prinsip penting dalam kepakaran ini adalah bahwa manusia tetap menjadi pusat perubahan.
Kewirausahaan sosial bukan tujuan akhir.
Usaha sosial bukan tujuan akhir.
Bahkan keuntungan ekonomi pun bukan tujuan akhir.
Kesemuanya merupakan instrumen untuk menciptakan nilai sosial dan memperkuat kemampuan manusia untuk berkembang.
Karena itu, pengembangan kepakaran ini memiliki keterkaitan erat dengan human development.
Individu diharapkan semakin mampu mengenali potensi dirinya.
Komunitas semakin mampu mengenali aset yang dimilikinya.
Organisasi sosial semakin mampu menciptakan inovasi.
Dan masyarakat semakin mampu menghasilkan solusi terhadap persoalan yang mereka hadapi.
Dengan cara pandang tersebut, kewirausahaan sosial menjadi salah satu jembatan antara pengembangan manusia, pekerjaan sosial, inovasi sosial, dan pembangunan masyarakat.
Dari Human Development Menuju Social Value Creation
Secara konseptual, arah pengembangan kepakaran ini dapat digambarkan melalui sebuah alur:
Human Development → Entrepreneurial Capacity → Social Innovation → Social Value Creation → Sustainability.
Artinya, pengembangan manusia menjadi fondasi.
Dari sana tumbuh kapasitas kewirausahaan: kemampuan melihat peluang, mengambil inisiatif, berinovasi, membangun jejaring, dan mengelola sumber daya.
Kapasitas tersebut kemudian diarahkan untuk menghasilkan inovasi sosial.
Inovasi menghasilkan nilai sosial.
Dan nilai sosial perlu dirancang agar dapat berkelanjutan.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan hanya:
“Berapa usaha yang berhasil didirikan?”
tetapi juga:
“Berapa banyak kapasitas manusia yang berkembang dan berapa besar nilai sosial yang berhasil diciptakan?”
Di Mana Posisi Spiritual Functioning?
Pengembangan kepakaran ini juga memiliki hubungan dengan gagasan Keberfungsian Spiritual (Spiritual Functioning) yang selama ini dikembangkan melalui ARBA.
Keberfungsian spiritual memberikan perhatian pada bagaimana kesadaran manusia membentuk cara seseorang memaknai kehidupan, mengambil sikap, menentukan pilihan, melakukan tindakan, dan belajar dari pengalaman.
Dalam konteks kewirausahaan sosial, dimensi tersebut menjadi menarik.
Mengapa seseorang memilih menciptakan manfaat sosial?
Mengapa seseorang bersedia mengambil inisiatif ketika orang lain memilih diam?
Mengapa seseorang mampu mempertahankan perjuangan sosial ketika hasil ekonomi belum terlihat?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada wilayah yang lebih dalam daripada sekadar keterampilan kewirausahaan.
Ada persoalan makna, nilai, motivasi, kesadaran, dan orientasi hidup.
Karena itu, salah satu kemungkinan pengembangan keilmuan ke depan adalah mengkaji hubungan antara Spiritual Functioning, entrepreneurial orientation, social innovation, dan social value creation.
Bukan untuk menggantikan teori kewirausahaan sosial yang telah berkembang, tetapi untuk memberikan perspektif tambahan mengenai dimensi manusia yang menggerakkan kewirausahaan sosial.
ARBA sebagai Living Laboratory
Gagasan tersebut tidak berhenti pada ruang akademik.
ARBA dikembangkan sebagai ruang belajar sekaligus living laboratory untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi praktik sosial.
Melalui pendidikan, pelatihan, pengembangan komunitas, knowledge translation, pengasuhan, pengembangan kapasitas masyarakat, dan berbagai inisiatif sosial, ARBA menjadi ruang untuk menguji bagaimana gagasan tentang pengembangan manusia dan kewirausahaan sosial dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, hubungan antara akademik dan masyarakat tidak berjalan satu arah.
Pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi praktik.
Praktik menghasilkan pengalaman.
Pengalaman menghasilkan pembelajaran.
Pembelajaran kembali menjadi pengetahuan baru.
Knowledge → Translation → Practice → Reflection → Innovation → Knowledge.
Siklus inilah yang diharapkan dapat memperkuat pengembangan body of knowledge Kewirausahaan Sosial dalam Pekerjaan Sosial.
Menuju Body of Knowledge
Pengembangan kepakaran Dr. Hery Wibowo diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan kegiatan atau program, tetapi secara bertahap membangun body of knowledge yang memiliki fondasi konseptual, empiris, metodologis, dan aplikatif.
Beberapa agenda pengembangannya antara lain:
- pengembangan konsep kewirausahaan sosial dalam perspektif pekerjaan sosial;
- pengembangan model kewirausahaan sosial berbasis human development;
- pengembangan kapasitas kewirausahaan individu dan komunitas;
- social innovation dan social value creation;
- pengembangan keberlanjutan social enterprise;
- pengembangan instrumen pengukuran kapasitas kewirausahaan sosial;
- integrasi dimensi Spiritual Functioning dalam pengembangan manusia;
- pengembangan pembelajaran kewirausahaan sosial dalam pendidikan pekerjaan sosial;
- penelitian dan publikasi ilmiah; serta
- pengembangan ARBA sebagai living laboratory untuk knowledge translation dan inovasi sosial.
Dengan agenda tersebut, kepakaran tidak berhenti pada satu mata kuliah, satu program, atau satu jenis kegiatan.
Ia diarahkan menjadi ekosistem keilmuan.
Mengapa Penting bagi Pekerjaan Sosial?
Dunia pekerjaan sosial membutuhkan generasi profesional yang bukan hanya mampu membantu masyarakat bertahan menghadapi masalah, tetapi juga mampu membantu masyarakat bertumbuh setelah menghadapi masalah tersebut.
Pekerja sosial masa depan perlu mampu menjadi:
social worker → capacity builder → social innovator → social entrepreneur → community change agent.
Perubahan tersebut bukan berarti meninggalkan identitas pekerjaan sosial.
Justru sebaliknya.
Ia merupakan upaya memperluas kemampuan pekerjaan sosial dalam menjawab tantangan zaman.
Sebab kesejahteraan sosial bukan hanya tentang mengurangi penderitaan.
Kesejahteraan sosial juga tentang menciptakan kondisi yang memungkinkan manusia berkembang dan menghasilkan manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Sebuah Perjalanan Keilmuan
Karena itu, pengembangan Kewirausahaan Sosial dalam Pekerjaan Sosial perlu dilihat sebagai sebuah perjalanan keilmuan.
Perjalanan untuk menjawab pertanyaan sederhana tetapi fundamental:
Bagaimana pekerjaan sosial dapat membantu manusia bukan hanya keluar dari masalah, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan solusi?
Di sinilah kewirausahaan sosial menemukan tempatnya.
Bukan sebagai pengganti pekerjaan sosial.
Bukan pula sebagai sekadar teknik bisnis.
Tetapi sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat kemampuan manusia dan komunitas dalam menciptakan nilai sosial yang bermakna dan berkelanjutan.
Dan di sinilah ARBA ingin mengambil bagian:
belajar, menerjemahkan pengetahuan, bereksperimen, membangun kapasitas, menciptakan inovasi, dan bertumbuh bersama masyarakat.
Karena pada akhirnya, kewirausahaan sosial bukan sekadar tentang menciptakan usaha.
Ia adalah tentang menciptakan kemungkinan baru bagi manusia untuk bertumbuh dan memberi manfaat.
