Sarjana Pengangguran, Pendidikan Orang Tua, dan Kewirausahaan Sosial
Sarjana Pengangguran, Pendidikan Orang Tua dan Kewirausahaan Sosial
Dari kegelisahan nasional menuju gerakan pembelajaran ARBA
Alhamdulillah, kembali sebuah gagasan pembelajaran ARBA hadir di ruang publik nasional.
Artikel “Sarjana Pengangguran, Pendidikan Orang Tua, dan Kewirausahaan Sosial” karya Dr. Hery Wibowo, S.Psi., MM telah diterbitkan oleh Kompas.com pada 11 Agustus 2026.
Baca artikel selengkapnya di Kompas.com
Bagi Akademi Ruang Belajar Al Jauzi (ARBA), publikasi ini bukan sekadar pencapaian personal penulis. Ia merupakan bagian dari ikhtiar untuk membawa isu-isu penting bangsa ke ruang pembelajaran masyarakat.
Persoalan sarjana yang belum terserap dalam dunia kerja tidak cukup dilihat hanya sebagai persoalan lapangan pekerjaan.
Ia perlu mengajak kita bertanya lebih jauh:
Sudahkah sejak dini anak-anak kita dibantu mengenali dirinya, potensinya, minatnya, kekuatannya, dan kemungkinan kontribusinya bagi masyarakat?
Sebab mungkin persoalannya bukan semata-mata karena terlalu sedikit pekerjaan.
Mungkin kita juga perlu bertanya apakah selama ini pendidikan telah cukup membantu generasi muda menjadi pencipta nilai, pencipta solusi, dan pencipta kesempatan?
Dari Job Seeker menjadi Problem Solver
Inilah salah satu gagasan yang terus dikembangkan ARBA.
Generasi muda perlu dibantu untuk bergerak dari pola pikir:
“Saya ingin mendapatkan pekerjaan.”
menuju:
“Saya ingin memberikan kontribusi.”
Dan kontribusi tersebut dapat diarahkan setidaknya pada tiga ruang:
1. Problem Solver
Menyelesaikan masalah sosial.
Apa persoalan yang saya lihat di lingkungan saya?
2. Need Fulfiller
Memenuhi kebutuhan sosial.
Kebutuhan siapa yang belum terpenuhi dan dapat saya bantu?
3. Potential Developer
Mengembangkan potensi sosial.
Potensi apa yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat, tetapi belum berkembang optimal?
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai hidup dalam diri generasi muda, kewirausahaan sosial dapat menjadi salah satu kendaraan untuk menerjemahkan kepedulian menjadi inisiatif, inovasi, layanan, usaha, dan keberlanjutan.
Orang Tua Memegang Peran Penting
ARBA juga melihat bahwa perubahan tersebut tidak dapat dibebankan kepada perguruan tinggi saja.
Ia harus dimulai jauh lebih awal: dari rumah.
Orang tua memiliki kesempatan pertama untuk membantu anak mengenali dirinya.
Bukan buru-buru menentukan:
“Nak, nanti kamu harus jadi apa?”
melainkan mendampingi anak menemukan:
“Apa yang membuatmu hidup, bertumbuh, menikmati proses, dan mampu memberikan manfaat?”
Dari sinilah pembelajaran tentang fitrah bakat, keberfungsian spiritual, pengenalan diri, dan misi hidup menjadi penting.
Anak perlu tumbuh dengan kesadaran bahwa dirinya bukan sekadar calon pekerja.
Ia adalah calon warga negara yang memiliki potensi untuk memberikan kontribusi.
Karena itu, orang tua, guru, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat perlu menjadi bagian dari ekosistem yang sama.
ARBA sebagai Ruang Belajar
Melalui berbagai programnya—mulai dari Kartu Belajar Parenting (KBP), video pembelajaran, komunitas belajar, pelatihan, pendidikan masyarakat, hingga pengembangan konsep Spiritual Functioning—ARBA berusaha menghadirkan ruang untuk proses tersebut.
ARBA tidak ingin hanya menjadi tempat orang mendapatkan pengetahuan.
ARBA ingin menjadi ruang agar pengetahuan tersebut bergerak:
Read → Reflect → Relate → Respond → Realize
Membaca.
Merenungkan.
Menghubungkan dengan realitas.
Merancang respons.
Kemudian mewujudkannya menjadi aksi.
Karena itu, berbagai tulisan yang hadir melalui media nasional seperti Kompas juga kami pandang sebagai bahan belajar bersama.
Bukan sekadar untuk dibaca.
Tetapi untuk dipikirkan.
Didiskusikan.
Dihubungkan dengan kehidupan keluarga dan masyarakat.
Lalu—jika memungkinkan—diterjemahkan menjadi tindakan.
Mari Menjadi Bagian dari Komunitas Pembelajar
ARBA percaya bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari program pemerintah yang besar.
Kadang ia dimulai dari satu orang tua yang mulai mengubah cara memandang anaknya.
Dari seorang guru yang mulai melihat muridnya bukan hanya sebagai peserta didik, tetapi sebagai manusia dengan potensi.
Dari seorang mahasiswa yang mulai bertanya:
“Masalah apa yang dapat saya bantu selesaikan?”
Dari seorang anak muda yang memilih membangun sesuatu di daerahnya.
Dan dari sekelompok orang yang memutuskan untuk terus belajar dan terus berbuat baik.
Karena itu, kami mengundang para orang tua, pendidik, mahasiswa, pekerja sosial, penggerak komunitas, dan generasi muda untuk menjadi bagian dari komunitas pembelajar ARBA.
Mari belajar mengenali potensi.
Mari belajar membaca persoalan.
Mari belajar menemukan peluang kontribusi.
Mari belajar mengubah kepedulian menjadi aksi.
Dan mari belajar membuat kebaikan menjadi berkelanjutan.
ARBA | Knowledge Translation & Social Education based Social Enterprise
Dari pengetahuan → menjadi pembelajaran.
Dari pembelajaran → menjadi kesadaran.
Dari kesadaran → menjadi aksi.
Dari aksi → menjadi kemanfaatan.
Alhamdulillah, satu lagi pembelajaran ARBA sampai ke ruang publik nasional.
Semoga semakin banyak gagasan yang dapat kita pelajari bersama, dan semakin banyak kebaikan yang dapat kita wujudkan bersama.
Baca: “Sarjana Pengangguran, Pendidikan Orang Tua, dan Kewirausahaan Sosial” — Kompas.com
