Bangsa Ini Tidak Kekurangan Orang Cerdas
Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas
Beberapa dekade terakhir, Indonesia terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Sekolah diperbaiki, kurikulum diperbarui, teknologi pembelajaran dikembangkan, dan berbagai pelatihan diberikan kepada guru. Semua itu merupakan ikhtiar penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun, di tengah berbagai kemajuan tersebut, kita masih sering menyaksikan ironi. Orang-orang yang cerdas secara akademik ternyata masih dapat terjerumus pada korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan, intoleransi, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai bentuk penyimpangan sosial lainnya.
Fenomena ini mengajak kita merenungkan satu pertanyaan mendasar: apakah pendidikan cukup jika hanya menghasilkan manusia yang cerdas?
Kecerdasan adalah modal penting. Namun kecerdasan membutuhkan arah. Tanpa arah, kecerdasan hanya akan memperbesar kemampuan seseorang untuk mencapai apa pun yang ia inginkan, termasuk ketika tujuan hidupnya keliru. Ya, sekali saya tekankan bahwa kecerdasan memerlukan arah, sekaligus daya dorong. Jika tidak punya pegangan arah, nilai dan norma yang diyakini, maka kecerdasan siswa dapat berubah menjadi bencana bagi dirinya, maupun orang lain.
Karena itu, bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang cerdas. Yang masih perlu terus dibangun adalah semakin banyak warga negara yang memiliki arah hidup, kesadaran, dan kompas moral dalam menjalani kehidupannya. Tentunya seiring sejalan dengan pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di sinilah pentingnya memberikan perhatian yang lebih serius pada dimensi keberfungsian spiritual dalam pendidikan.
Keberfungsian spiritual bukan sekadar pengetahuan agama, bukan pula ritual keagamaan semata. Ia adalah kemampuan seseorang untuk mengaktifkan kesadaran terdalamnya sehingga mampu memaknai kehidupan, mengenali tujuan penciptaannya, memahami potensi yang dimiliki, serta menjadikan nilai-nilai ilahiah sebagai pedoman dalam mengambil keputusan. Ini adalah dinamika pra-kognitif, yaitu hal yang muncul sebelum pikiran, atau kesadaran yang memandu pikiran sebagai awal dari sikap dan perilaku. Sebagai contoh ketika seseorang dengan kesadaran tinggi bahwa hidup tidak boleh menzalimi orang lain, maka yang bersangkutan akan berpikir ribuan kali untuk merokok yang dapat mengeluarkan racun berbahaya.Ketika dimensi ini berkembang, kecerdasan tidak lagi berjalan sendirian. Ia dipandu oleh kesadaran.
Seorang anak mungkin mampu memperoleh nilai matematika yang tinggi, tetapi pada saat yang sama belum memahami untuk apa ia belajar. Ia mungkin menguasai teknologi digital, tetapi belum memiliki kompas yang membimbing bagaimana teknologi itu digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Inilah tantangan pendidikan masa depan.
Selama ini perhatian kita lebih banyak diarahkan pada peningkatan kemampuan berpikir. Sementara pembangunan kesadaran sering kali diasumsikan akan tumbuh dengan sendirinya. Padahal kesadaran memerlukan proses pembiasaan, keteladanan, dialog, refleksi, dan pendampingan yang berlangsung setiap hari.
Di sinilah keluarga memiliki peran yang tidak tergantikan.
Sekolah memiliki waktu yang terbatas bersama peserta didik. Sebaliknya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang paling panjang dan paling dekat dengan kehidupan anak. Di rumah, anak belajar memaknai kegagalan, menghadapi konflik, menyikapi keberhasilan, memahami kasih sayang, serta menyusun cita-cita hidupnya.
Karena itu, investasi pendidikan tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan gedung, laboratorium, atau perangkat pembelajaran. Investasi yang sama pentingnya adalah membangun kapasitas orang tua agar mampu menjadi pendidik utama yang mengembangkan keberfungsian spiritual anak-anaknya. Inilah yang perlu diseriuskan untuk dimulai. Inilah investasi yang perlu dipertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Membimbing jutaan orang tua agar mampu menumbuhkan kesadaran hidup anak bukanlah beban tambahan bagi pendidikan nasional. Justru di sanalah tersimpan peluang terbesar untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki arah hidup yang jelas. Mengapa? Karena kita sedang membuat mitra yang tangguh bagi sekolah. Kawan yang seiring sejalan saling menguatkan. Teman yang tidak lelah berjuang untuk mencapai tujuan
Bayangkan apabila jutaan anak Indonesia tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup di dunia hanyalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal; bahwa setiap manusia membawa amanah yang harus diwujudkan menjadi kemaslahatan; bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang perlu dikembangkan; dan bahwa setiap keputusan hidup memerlukan petunjuk dari Allah sebagai kompas kehidupan.
Bangsa ini tentu tidak hanya akan memiliki lebih banyak lulusan berprestasi. Kita akan memiliki lebih banyak warga negara yang menggunakan kecerdasannya untuk membangun peradaban.
Mungkin inilah saatnya kita memperluas makna pendidikan. Pendidikan bukan hanya proses mentransfer ilmu, melainkan juga proses mengaktifkan kesadaran. Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat kecerdasan warganya, tetapi juga oleh seberapa kuat arah hidup yang memandu kecerdasan tersebut.
ARBA meyakini bahwa setiap manusia lahir membawa benih keberfungsian spiritual. Tugas pendidikan bukan menanam benih baru, melainkan mengaktivasi benih itu agar tumbuh menjadi kekuatan yang menghadirkan maslahat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Maka, pemerintah perlu terus membuka pikiran bahwa Pendidikan berkomunitas adalah keniscayaan. Masyarakat memiliki potensi dan kekuatannya sendiri untuk memantaskan dirinya menjadi mitra sekolah dalam membangun generasi. Selama kesempatan itu ada, selama peta jalannya jelas.
