Sekolah Maung dan Penguatan Keberfungsian Spiritual
Oleh: Dr. Hery Wibowo, S.Psi., MM
Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghadirkan Sekolah Maung patut diapresiasi sebagai langkah progresif dalam membangun pendidikan yang lebih adaptif terhadap potensi peserta didik. Gagasan menghadirkan sekolah dengan penguatan minat, bakat, kecerdasan akademik maupun non-akademik menunjukkan adanya kesadaran bahwa setiap anak memiliki keunikan dan membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih spesifik.
Di tengah dunia yang berubah sangat cepat, Indonesia memang membutuhkan pendidikan yang tidak lagi seragam dan kaku. Anak-anak berbakat di bidang sains, olahraga, seni, teknologi, kepemimpinan, maupun kewirausahaan perlu mendapatkan ruang tumbuh yang lebih optimal. Dalam konteks ini, Sekolah Maung dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Namun terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu menjadi perhatian bersama: Apakah pendidikan cukup hanya meningkatkan kecerdasan otak?
Tidak Kekurangan Generasi Cerdas
Hari ini bangsa Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan anak-anak cerdas. Setiap tahun lahir siswa-siswa berprestasi, unggul dalam teknologi, kompetitif secara akademik, bahkan mampu bersaing di tingkat global. Akan tetapi, pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan serius yaitu antara lain meningkatnya krisis Kesehatan mental remaja. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia (kemenkes.go.id). Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS/goodstat) menunjukkan: sekitar 34,9% remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, dan sekitar 5,5% mengalami gangguan mental klinis.
Riset PDSKJI tahun 2025 yang menggunakan Alat Ukur Fungsi Eksekutif Indonesia (AUFEI) yang dilansir dari health.detik.com pada 624 remaja usia transisi (13-24 tahun) menghasilkan temuan yang mengejutkan Lebih dari separuh responden (55,4%) menunjukkan spiritual functioning yang belum matang. Artinya, nilai, makna hidup, dan batas moral mereka belum terbentuk kuat untuk menjadi ‘rem’ saat menghadapi tekanan sosial atau krisis eksistensial.
Belum lagi berbicara tentang kecenderungan budaya instan (terlalu tergantung pada mesin kecerdasan buatan), menurunnya nilai moral, kecanduan digital, kekerasan (baik verbal-non verbal, dunia nyata-maya) dan lain-lain.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kurikulum yang berfokus pada penguatan kecerdasan intelektual saja ternyata belum cukup menjadi fondasi pembangunan manusia. Artinya, kecenderungan ini perlu dibaca dengan cermat. Label sekolah unggul perlu mengemban amanah yang lebih tinggi yaitu Pembangunan keberfungsian siswa seutuhnya
Karena itu, jika Sekolah Maung ingin menjadi sekolah masa depan yang benar-benar transformatif, maka penguatan keberfungsian spiritual perlu menjadi bagian penting dari paradigma pendidikannya.
Apa Itu Keberfungsian Spiritual?
Setiap insan manusia, sejatinya telah diberikan anugerah yang luar biasa oleh Sang Pencipta. Pada konteks keilmuan kesejahteraan sosial, manusia dipetakan menjadi empat keberfungsian besar yaitu keberfungsian biologis, psikologis, sosial dan spiritual. WHO menegaskan bahwa kesehatan manusia bukan hanya pada dimensi fisik dan psikologis, namun juga zona spiritualisme manusia.
Hari ini kita melihat bahwa upaya negara untuk berusaha memenuhi kebutuhan tumbuh kembang tiga keberfungsian (biologis, psikologis dan sosial) telah diupayakan. Namun demikian, untuk dimensi keempat, yaitu keberfungsian spiritual, belum tampak desain dan peta jalan besarnya.
Keberfungsian spiritual bukan sekadar pendidikan agama formal, bukan pula sekadar ritualitas simbolik. Keberfungsian spiritual adalah kemampuan manusia untuk menjalani hidup secara sadar, bermakna, dan tetap terhubung dengan nilai, fitrah, serta tujuan hidupnya. Wibowo (2026) menegaskan bahwa keberfungsian spiritual dibangun dari empat dimensi yaitu (1) Temporary Awarness, yaitu kesadaran bahwa hidup di dunia hanya sementara, oleh karena itu waktu yang ada perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena seluruh perilaku akan dipertanggungjawabkan kelak, (2) Guidance Awarness, yaitu kesadaran bahwa manusia sangat lemah dan bodoh, sehingga selalu dan senantiasa membutuhkan bimbingan dari Sang Pencipta, agar hidup menjadi terarah dan tidak sesat dalam seluruh situasi, (3) Mission Awarness, yaitu kesadaran penuh bahwa setiap insan manusia memiliki tujuan dan maksud penciptaanya di muka bumi, serta (4) Fitrah Awarness, yaitu kesadaran bahwa sejatinya setiap insan manusia terlahir dengan benih fitrah bakat dan kemampuan yang luar biasa, sehingga setiap manusia bisa unggul diatas rata-rata di satu bidang dan hal tersebut akan menjadi sumber penghasilan rezekinya kelak. Maka, upaya membangun kesadaran ini begitu pentingnya untuk memandu langkah demi langkah para siswa ini kelak. Agar mereka mampu menjadi generasi penerus bangsa yang bergerak dengan penuh kesadaran untuk membangun maslahat bagi bangsanya, karena keyakina mereka akan tugas penciptaanya. Mereka akan sangat berhati-hati untuk melakukan kerusakan dan pelanggaran, karena sangat menyadari bahwa seluruh perilaku akan dipertanggungjawabkan kelak.
Dalam konteks pendidikan, muatan akademik keberfungsian spiritual berpotensi membantu siswa untuk memahami makna belajar, menjaga arah hidup, mengendalikan diri, membangun integritas, memiliki empati sosial, serta mampu menggunakan kecerdasannya untuk kemaslahatan. Singkat kata, bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga sadar. Sadar bahwa hidup bukan sekadar kompetisi. Sadar bahwa ilmu harus menghadirkan manfaat. Sadar bahwa kecerdasan tanpa moral dapat menjadi sumber kerusakan sosial.
Maka, pada konteks inisyatif Sekolah Maung (Manusia Unggul), isu ini seakan bertemu momentumnya. Unggul dalam hal ini, harus mencakup dimensi spiritual, yaitu dimensi yang (mungkin) masih sulit untuk diamanahkan dikembangkan di sekolah Non-Maung. Sekolah Maung dalam hal ini, karena merupakan sekolah khusus, masih punya kesempatan untuk mendesain pengembangan kurikulum yang mengutamakan (meminjam istilah Prof B.J Habibie) bukan hanya iptek, namun juga imtak (iman dan takwa). Jawa Barat membutuhkan generasi mendatang yang jauh lebih unggul iman dan takwanya, untuk mampu terus memandu langkah mereka.
Sekolah Masa Depan Harus Membangun Kesadaran
Di era kecerdasan buatan (artificial intelligence), kemampuan kognitif perlahan tidak lagi menjadi satu-satunya pembeda manusia. Mesin dapat membantu manusia berpikir cepat, menghitung, bahkan mengambil keputusan berbasis data. Namun terdapat satu hal yang tetap menjadi kekuatan utama manusia: kesadaran moral dan kebermaknaan hidup. Karena itu pendidikan masa depan perlu mulai bergeser:dari sekadar knowledge transfer menuju human development. Sekali lagi, bukan hanya memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, namun bagaimana membangun seluruh potensi dan keberfungsian manusia secara utuh.
Dalam perspektif ini, keberhasilan Sekolah Maung tidak semata diukur dari banyaknya siswa diterima di perguruan tinggi unggulan, tetapi juga dari lahirnya generasi yang: memiliki integritas, mampu menjaga dirinya di tengah lingkungan negatif, memiliki kepedulian sosial serta tetap berpijak pada nilai dan kemanusiaan.
Momentum Besar Pendidikan Jawa Barat
Sekolah Maung sesungguhnya dapat menjadi momentum besar bagi Jawa Barat untuk melahirkan model pendidikan yang lebih utuh, yaitu cerdas secara intelektual, sehat secara psikologis, kuat secara interaksi sosial dan matang secara spiritual.
Pendidikan berbasis potensi dan minat bakat perlu diiringi dengan pendidikan kesadaran dan makna hidup. Sebab anak-anak berbakat sekalipun tetap membutuhkan arah moral agar kecerdasannya tidak kehilangan orientasi. Di sinilah pentingnya penguatan keberfungsian spiritual: membangun manusia yang mampu berpikir cerdas sekaligus hidup secara sadar. Jika hal ini berhasil dilakukan, maka Sekolah Maung bukan sekadar sekolah unggulan baru, tetapi dapat menjadi model pembangunan manusia Indonesia masa depan: manusia yang unggul, berkarakter, dan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan serta spiritualitasnya. Karena, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan hanya membuat siswa pintar berpikir, tetapi membantu mereka tetap sadar: untuk apa kecerdasan itu digunakan.”
